4 Mambruk Victoria (Goura Victoria )
Klasifikasi ilmiah
· Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Aves
· Ordo : Columbiformes
· Famili : Columbidae
· Genus : Goura
· Spesies : G. victoria
Mambruk
Victoria atau dalam nama ilmiahnya Goura
victoria adalah sejenis burung yang terdapat di dalam suku
burung Columbidae. Mambruk Victoria adalah salah satu dari tiga burung dara
mahkota dan merupakan spesies terbesar di antara jenis-jenis burung merpati.
Burung Mambruk
Victoria berukuran besar, dengan panjang mencapai 74cm, dan memiliki bulu
berwarna biru keabu-abuan, jambul seperti kipas dengan ujung putih, dada merah
marun keunguan, paruh abu-abu, kaki merah kusam, dan garis tebal berwarna
abu-abu di sayap dan ujung ekornya. Di sekitar mata terdapat topeng hitam
dengan iris mata berwarna merah. Burung jantan dan betina serupa.
Populasi
Mambruk Victoria tersebar di hutan dataran rendah, hutan sagu dan hutan rawa di
bagian utara pulau Irian, yang juga termasuk pulau Yapen, pulau Biak dan
pulau-pulau kecil disekitarnya.
Burung Mambruk
Victoria bersarang di atas dahan pohon. Sarangnya terbuat dari ranting-ranting
dan dedaunan. Burung betina biasanya menetaskan sebutir telur berwarna putih.
Mambruk
Victoria adalah terestrial spesies. Burung ini mencari makan di atas permukaan
tanah. Pakan burung Mambruk Victoria terdiri dari aneka biji-bijian dan
buah-buahan yang jatuh di tanah. Spesies ini biasanya hidup berpasangan atau
dalam kelompok.Nama dari spesies ini memperingati seorang ratu Inggris,
Victoria dari Britania Raya.
Mambruk
Victoria diburu untuk di ambil daging dan bulunya. Spesies ini sudah jarang
ditemui di daerah dekat populasi manusia. Mambruk
Victoria dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List dan didaftarkan
dalam CITES Appendix II.
Klasifikasi
ilmiah
· Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Mammalia
· Ordo : Carnivora
· Famili : Felidae
· Genus : Acinonyx Brookes, 1828
· Spesies : A. jubatus
Cheetah atau citah (dari bahasa Sansekerta Chitraka
berarti "berbintik") (Acinonyx jubatus) adalah anggota keluarga
kucing (Felidae) yang berburu mangsa dengan menggunakan kecepatan dan bukan
taktik mengendap-endap atau bergerombol. Hewan ini adalah hewan yang tercepat
di antara hewan darat dan dapat mencapai kecepatan 110 km/jam dalam waktu
singkat sampai 460 m, dengan akselerasi 0 - 100 km/jam dalam waktu 3,5 detik,
lebih cepat dari beberapa supercar. Konon, selama bertahun-tahun Cheetah hanya
dikenal sebagai cerita hantu. Menurut cerita, binatang pemangsa besar dengan
garis-garis mirip macan ditubuhnya ini sering membawa kabur orang-orang yang
berada di perbatasan Mozambique. Penduduk sering memberi julukan
"magwa". Cerita atau isu adanya Cheetah terbukti kebenarannya ketika
Paul dan Lena Bottriel berhasil memotretnya pada tahun 1975.
6 Penyu
Klasifikasi
ilmiah:
·
Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Sauropsida
· Ordo : Testudinata
· Upaordo : Cryptodira
· Superfamili : Chelonioidea
Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di
semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir
zaman Jura (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada
masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys
telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini.
Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa
kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun
seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata,
kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil
napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya
bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama.
Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari.
Masa Bertelur
Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari
2 - 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di
laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai
pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai
tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan
sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan
berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan
kembali ke laut.
Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada
yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui tidak setia pada
tempat kelahirannya.
Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor
penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina,
paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut
kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh
manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai,
serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.
Di tempat-tempat yang populer sebagai tempat
bertelur penyu biasanya sekarang dibangun stasiun penetasan untuk membantu
meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di Indonesia misalnya terdapat
stasiun penetasan di :
· Pantai
selatan Jawa Barat (Pangumbahan, Cikepuh KSPL Chelonia UNAS)
· pantai
selatan Bali (di dekat Kuta)
· Kalimantan
Tengah (Sungai Cabang FNPF)
· pantai
selatan Lombok
· Jawa
Timur (Alas Purwo)
· Bengkulu
(Retak ilir Muko-muko)
Jenis Penyu
Di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis penyu yang
masih bertahan, yaitu :
· Penyu hijau (Chelonia
mydas)
· Penyu sisik (Eretmochelys
imbricata)
· Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi)
· Penyu lekang (Lepidochelys
olivacea)
·
Penyu
belimbing (Dermochelys coriacea)
· Penyu pipih (Natator
depressus)
·
Penyu
tempayan (Caretta caretta)
Dari jenis-jenis tersebut, penyu belimbing adalah
yang terbesar dengan ukuran panjang badan mencapai 2,75 meter dan bobot 600 -
900 kilogram. Penyu lekang adalah yang terkecil, dengan bobot sekitar 50
kilogram. Namun demikin, jenis yang paling sering ditemukan adalah penyu hijau.
Penyu, terutama penyu hijau, adalah hewan pemakan
tumbuhan yang sesekali memangsa beberapa hewan kecil.
Konservasi
Dalam laporan Conservation International (CI) yang
diumumkan pada simposium tahunan ke-24 mengenai usaha pelestarian penyu di
Kosta Rika disebutkan, banyaknya penyu belimbing turun dari sekitar 115.000
ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu
belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain
itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang
singkat seperti penyu belimbing.
Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar
hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena
dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping
penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga
diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation
Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu
(Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta)
digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang
diperkirakan tidak terancam.
Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu
hewan laut yang memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik
untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk jadi Sate penyu berkhasiat untuk
obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali, penyu menjadi
bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnyapun diambil.
Meski sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan
Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap
hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah kepunahan penyu,
terutama penyu belimbing, beberapa negara telah melindungi tempat bertelur
penyu. Salah satunya adalah di Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara
Irian. Pantai itu baru-baru ini ditetapkan sebagai wilayah konservasi.
7 KOMODO (Varanus komodoensis)
Klasifikasi ilmiah
·
Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Reptilia
· Ordo : Squamata
· Upaordo : Autarchoglossa
· Famili : Varanidae
· Genus : Varanus
· Spesies : V. komodoensis
Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak
komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup
di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara.
Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat
ora.
Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad
Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang
2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau,
yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau
kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup
komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal
ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya
hidup.
Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910.
Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di
kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas
manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan
terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan
pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo,
didirikan untuk melindungi mereka.
Anatomi dan Morfologi
Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki
massa sekitar 70 kilogram, namun komodo yang dipelihara di penangkaran sering
memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Spesimen liar terbesar yang pernah ada
memiliki panjang sebesar 3.13 meter dan berat sekitar 166 kilogram, termasuk
berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Meski komodo tercatat
sebagai kadal terbesar yang masih hidup, namun bukan yang terpanjang. Reputasi
ini dipegang oleh biawak Papua (Varanus salvadorii). Komodo memiliki ekor yang
sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam
sepanjang sekitar 2.5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali
bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan
gingiva dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan
lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut
mereka. Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang.
Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari
abu-abu gelap sampai merah batu bata, sementara komodo betina lebih berwarna
hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya.
Komodo muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau dan putih pada latar
belakang hitam.
Fisiologi
Komodo tak memiliki
indera pendengaran, meski memiliki lubang telinga. Biawak ini mampu melihat
hingga sejauh 300 m, namun karena retinanya hanya memiliki sel kerucut, hewan
ini agaknya tak begitu baik melihat di kegelapan malam. Komodo mampu membedakan
warna namun tidak seberapa mampu membedakan obyek yang tak bergerak. Komodo
menggunakan lidahnya untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli, seperti reptil
lainnya, dengan indera vomeronasal memanfaatkan organ Jacobson, suatu kemampuan
yang dapat membantu navigasi pada saat gelap. Dengan bantuan angin dan
kebiasaannya menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika berjalan, komodo
dapat mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4—9.5 kilometer. Lubang
hidung komodo bukan merupakan alat penciuman yang baik karena mereka tidak
memiliki sekat rongga badan. Hewan ini tidak memiliki indra perasa di lidahnya,
hanya ada sedikit ujung-ujung saraf perasa di bagian belakang tenggorokan.
Sisik-sisik komodo,
beberapa di antaranya diperkuat dengan tulang, memiliki sensor yang terhubung
dengan saraf yang memfasilitasi rangsang sentuhan. Sisik-sisik di sekitar
telinga, bibir, dagu dan tapak kaki memiliki tiga sensor rangsangan atau lebih.
Komodo pernah dianggap
tuli ketika penelitian mendapatkan bahwa bisikan, suara yang meningkat dan
teriakan ternyata tidak mengakibatkan agitasi (gangguan) pada komodo liar. Hal
ini terbantah kemudian ketika karyawan Kebun Binatang London ZSL, Joan Proctor
melatih biawak untuk keluar makan dengan suaranya, bahkan juga ketika ia tidak
terlihat oleh si biawak.
Ekologi
Komodo secara alami hanya ditemui di Indonesia, di
pulau Komodo, Flores dan Rinca dan beberapa pulau lainnya di Nusa Tenggara.
Hidup di padang rumput kering terbuka, sabana dan hutan tropis pada ketinggian
rendah, biawak ini menyukai tempat panas dan kering ini. Mereka aktif pada
siang hari, walaupun terkadang aktif juga pada malam hari. Komodo adalah
binatang yang penyendiri, berkumpul bersama hanya pada saat makan dan
berkembang biak. Reptil besar ini dapat berlari cepat hingga 20 kilometer per
jam pada jarak yang pendek; berenang dengan sangat baik dan mampu menyelam
sedalam 4.5 meter; serta pandai memanjat pohon menggunakan cakar mereka yang
kuat. Untuk menangkap mangsa yang berada di luar jangkauannya, komodo dapat
berdiri dengan kaki belakangnya dan menggunakan ekornya sebagai penunjang.
Dengan bertambahnya umur, komodo lebih menggunakan cakarnya sebagai senjata,
karena ukuran tubuhnya yang besar menyulitkannya memanjat pohon.
Untuk tempat berlindung, komodo menggali lubang
selebar 1–3 meter dengan tungkai depan dan cakarnya yang kuat. Karena besar
tubuhnya dan kebiasaan tidur di dalam lubang, komodo dapat menjaga panas
tubuhnya selama malam hari dan mengurangi waktu berjemur pada pagi selanjutnya.
Komodo umumnya berburu pada siang hingga sore hari, tetapi tetap berteduh
selama bagian hari yang terpanas. Tempat-tempat sembunyi komodo ini biasanya
berada di daerah gumuk atau perbukitan dengan semilir angin laut, terbuka dari
vegetasi, dan di sana-sini berserak kotoran hewan penghuninya. Tempat ini
umumnya juga merupakan lokasi yang strategis untuk menyergap rusa.
Perilaku
makan
Komodo adalah hewan karnivora. Walaupun mereka
kebanyakan makan daging bangkai, penelitian menunjukkan bahwa mereka juga
berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan
tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi
komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan.
Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam,
yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5
kilometer.
Reptil purba ini makan dengan cara mencabik
potongan besar daging dan lalu menelannya bulat-bulat sementara tungkai
depannya menahan tubuh mangsanya. Untuk mangsa berukuran kecil hingga sebesar
kambing, bisa jadi dagingnya dihabiskan sekali telan. Isi perut mangsa yang
berupa tumbuhan biasanya dibiarkan tak disentuh. Air liur yang kemerahan dan
keluar dalam jumlah banyak amat membantu komodo dalam menelan mangsanya. Meski
demikian, proses menelan tetap memakan waktu yang panjang; 15–20 menit
diperlukan untuk menelan seekor kambing. Komodo terkadang berusaha mempercepat
proses menelan itu dengan menekankan daging bangkai mangsanya ke sebatang
pohon, agar karkas itu bisa masuk melewati kerongkongannya. Dan kadang-kadang
pula upaya menekan itu begitu keras sehingga pohon itu menjadi rebah. Untuk
menghindari agar tak tercekik ketika menelan, komodo bernafas melalui sebuah
saluran kecil di bawah lidah, yang berhubungan langsung dengan paru-parunya.
Rahangnya yang dapat dikembangkan dengan leluasa, tengkoraknya yang lentur, dan
lambungnya yang dapat melar luar biasa memungkinkan komodo menyantap mangsa
yang besar, hingga sebesar 80% bobot tubuhnya sendiri dalam satu kali makan.
Setelah makan, komodo menyeret tubuhnya yang kekenyangan mencari sinar matahari
untuk berjemur dan mempercepat proses pencernaan. Kalau tidak, makanan itu
dapat membusuk dalam perutnya dan meracuni tubuhnya sendiri. Dikarenakan
metabolismenya yang lamban, komodo besar dapat bertahan dengan hanya makan 12
kali setahun atau kira-kira sekali sebulan. Setelah daging mangsanya tercerna,
komodo memuntahkan sisa-sisa tanduk, rambut dan gigi mangsanya, dalam
gumpalan-gumpalan bercampur dengan lendir berbau busuk, gumpalan mana dikenal
sebagai gastric pellet. Setelah itu komodo menyapukan wajahnya ke tanah atau ke
semak-semak untuk membersihkan sisa-sisa lendir yang masih menempel; perilaku
yang menimbulkan dugaan bahwa komodo, sebagaimana halnya manusia, tidak
menyukai bau ludahnya sendiri.
8 Kuau raja (Argusianus argus )
Klasifikasi ilmiah
·
Kerajaan :
Animalia
· Filum :
Chordata
· Kelas : Aves
· Ordo :
Galliformes
· Famili :
Phasianidae
· Genus :
Argusianus
· Spesies : A.
argus
Kuau Raja atau dalam nama ilmiahnya Argusianus argus adalah salah satu
burung yang terdapat di dalam suku Phasianidae. Kuau Raja mempunyai bulu
berwarna coklat kemerahan dan kulit kepala berwarna biru. Burung jantan dewasa
berukuran sangat besar, panjangnya dapat mencapai 200cm. Di atas kepalanya
terdapat jambul dan bulu tengkuk berwarna kehitaman. Burung jantan dewasa juga
memiliki bulu sayap dan ekor yang sangat panjang, dihiasi dengan bintik-bintik
besar menyerupai mata serangga atau oceli. Burung betina berukuran lebih kecil
dari burung jantan, panjangnya sekitar 75cm, dengan jambul kepala berwarna
kecoklatan. Bulu ekor dan sayap betina tidak sepanjang burung jantan, dan hanya
dihiasi dengan sedikit oceli.
Populasi Kuau Raja tersebar di Asia Tenggara.
Spesies ini ditemukan di hutan tropis Sumatra, Borneo dan Semenanjung Malaysia.
Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu
sayap dan ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu sayapnya dibuka membentuk
kipas, memamerkan "ratusan mata" di depan pasangannya. Nama binomial
spesies ini diberikan oleh Carolus Linnaeus, berdasarkan dari raksasa bermata seratus
bernama Argus di mitologi Yunani. Burung betina menetaskan hanya dua telur
saja.
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan serta
penangkapan liar yang terus berlanjut, Kuau Raja dievaluasikan sebagai beresiko
Hampir Terancam di dalam IUCN Red List. Burung ini didaftarkan dalam CITES
Appendix II.
9
Baning Sulawesi ( Indotestudo forstenii )
Klasifikasi
ilmiah
·
Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Reptilia
· Ordo : Testudines
· Famili : Testudinidae
· Genus : Indotestudo
· Spesies : I. forstenii
Baning
Sulawesi (Indotestudo forstenii) adalah sejenis kura-kura darat dari Sulawesi.
Hewan ini menyebar cukup luas dari perbukitan Lembah Palu sampai sekitar
Gorontalo. Dalam bahasa Inggris kura-kura ini dikenal sebagai Forsten’s Tortoise
atau Sulawesi Tortoise.
Kura-kura
jenis ini identik dengan kerabatnya dari India, Indotestudo travancorica. Oleh
sebab itu sebagian pakar pada mulanya mengira bahwa baning ini merupakan jenis
introduksi. Akan tetapi mengingat sebarannya yang cukup luas di Sulawesi,
kura-kura ini bisa jadi merupakan jenis yang tersendiri. Belakangan, studi yang
dilakukan oleh Iverson dkk. (2001) membuktikan hal ini.
Meski
demikian, dari segi kelestarian jenis, daerah sebaran seluas itu masih
terhitung sempit. Habitat baning Sulawesi adalah hutan musim dan pamah
campuran. Habitatnya di perbukitan Lembah Palu dicirikan oleh adanya dominasi
tumbuhan Centong Duri (Opuntia nigricans, Euphorbiaceae).
Ditambah
dengan keadaan populasinya yang tak seberapa, baning Sulawesi dikatagorikan
mudah terancam punah. Terutama oleh ancaman eksploitasi yang berlebihan dan
kehilangan habitat. Oleh sebab itu IUCN
memasukkan baning Sulawesi ke dalam status Endangered (EN, terancam kepunahan)
, dan CITES memasukkannya ke dalam Appendiks II. Hewan ini belum dilindungi
oleh undang-undang RI.
10 ANOA
Klasifikasi ilmiah
· Kerajaan : Hewan
· Filum : Chordata
· Kelas : Mamalia
· Ordo : Artiodactyla
· Famili : Bovidae
· Upafamili : Bovinae
· Genus : Bubalus
· Spesies : B. quarlesi B. depressicornis
Ada
empat jenis hewan dalam genera Bubalus yakni kerbau (water buffalo, Bubalus
bubalis), tamaraw (B. mindoroensis), anoa gunung (B. quarlesi) dan anoa dataran
rendah (B. depressicornis). Ada ahli yang menginginkan agar anoa
diklasifikasikan kedalam genera tersendiri. Anoa adalah kerabat dekat sapi dan kambing.
Kerbau tersebar luas di dunia. Tamaraw hanya ada di Pulau Mindoro, Filipina.
Anoa hanya ditemukan di Sulawesi tapi anda bisa melihat anoa migran di San
Diego Zoological Garden.
Panjang
tubuh anoa 160-172 cm, ekornya 18-31 cm. Ukuran tubuh yang kerdil menjadi daya
tarik anoa. Anoa gunung biasanya berukuran lebih kecil. Rata-rata tinggi badan
anoa dewasa hanya 75 cm. Ada yang hanya 69 cm tapi ada mencapai 106 cm. Berat
badan anoa 150-300 kg. Anak anoa berbulu tebal warna coklat kekuningan. Semakin
tua, anoa semakin tidak berbulu dengan warna kulit coklat gelap sampai hitam.
Anoa jantan berwarna lebih gelap.
Anoa
hidup sampai 25 tahun. Masa kehamilan 300 hari dan biasanya hanya melahirkan 1
anak setiap 2 tahun. Anak anoa meninggalkan induknya setelah berusia 3 tahun
lalu memasuki masa puber. Anoa betina sering bersama 2-3 ekor anaknya yang
berbeda umur. Anoa jantan lebih sering menyendiri dan cenderung agresif
terhadap anoa jantan lain. Anoa memakan tumbuhan tertentu berupa rumput, herba,
perdu dan paku-pakuan. Anoa membantu penyebaran beberapa jenis tumbuhan asli
Sulawesi yang bijinya tidak beradaptasi untuk tersebar luas.
Anoa
sudah semakin langka dan menuju ke kepunahan. Kelangkaan anoa disebabkan oleh
dua hal yakni perburuan untuk konsumsi dan perusakan habitat. Dulu hutan-hutan
di Minahasa (mulai dari Likupang sampai Poigar) didiami oleh anoa, sekarang
anoa telah punah dari sana. Sterilisasi anoa dari tanah kelahirannya sekarang
ini masih terus berlangsung padahal anoa adalah satwa yang dilindungi undang-undang
Indonesia. Oleh organisasi
konservasi internasional IUCN, anoa diklasifikasikan endangered dan oleh CITES
anoa dimasukkan dalam daftar perlindungan tertinggi di appendix 1. Walaupun memprihatinkan, populasi anoa
bisa ditemukan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
11 BEKANTAN
Klasifikasi
ilmiah
·
Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Mammalia
· Ordo : Primata
· Famili : Cercopithecidae
· Upafamili : Colobinae
· Genus : Nasalis
· Spesies : N. larvatus
Bekantan atau biasa disebut Monyet Belanda
merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan (Indonesia, Brunei, dan Malaysia).
Bekantan merupakan sejenis kera yang mempunyai ciri khas hidung yang panjang
dan besar dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Dalam bahasa ilmiah,
Bekantan disebut Nasalis larvatus.
Bekantan dalam bahasa latin (ilmiah) disebut
Nasalis larvatus, sedang dalam bahasa inggris disebut Long-Nosed Monkey atau
Proboscis Monkey. Di negara-negara lain disebut dengan beberapa nama seperti
Kera Bekantan (Malaysia), Bangkatan (Brunei), Neusaap (Belanda). Masyarakat
Kalimantan sendiri memberikan beberapa nama pada spesies kera berhidung panjang
ini seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng dan Kahau.
Bekantan yang merupakan satu dari dua spesies
anggota Genus Nasalis ini sebenarnya terdiri atas dua subspesies yaitu Nasalis
larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis. Nasalis larvatus larvatus
terdapat dihampir seluruh bagian pulau Kalimantan sedangkan Nasalis larvatus
orientalis terdapat di bagian timur laut dari Pulau Kalimantan.
Binatang yang oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam status konservasi “Terancam” (Endangered) merupakan satwa endemik pulau Kalimantan. Satwa ini
dijadikan maskot (fauna identitas) provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan SK
Gubernur Kalsel No. 29 Tahun 1990 tanggal 16 Januari 1990. Selain itu, satwa
ini juga menjadi maskot Dunia Fantasi Ancol.
Ciri-ciri dan Habitat Bekantan.
Hidung panjang dan besar pada Bekantan (Nasalis
larvatus) hanya dimiliki oleh spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada bekantan
jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Kera
betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena
hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai Monyet Belanda.
12 Rusa Bawean (Axis kuhlii)
Klasifikasi ilmiah
·
Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Mammalia
· Ordo : Artiodactyla
· Upaordo : Ruminantia
· famili : Cervidae
· Upafamili : Cervinae
· Genus : Axis
· Spesies : A. kuhlii
Rusa Bawean (bahasa latinnya Axis kuhlii),
merupakan satwa endemik pulau Bawean yang populasinya semakin langka dan
terancam kepunahan. Oleh IUCN Redlist, Rusa Bawean, yang merupakan satu
diantara 4 jenis (spesies) Rusa yang dimiliki Indonesia ini, dikategorikan dalam “Kritis” (CR; Critiscally
Endangered) atau “sangat terancam kepunahan”. Spesies Rusa Bawean ini juga
terdaftar pada CITES sebagai appendix I. Dalam bahasa inggris disebut sebagai
Bawean Deer.
Ciri- Ciri dan Habitat Rusa Bawean
Rusa Bawean memiliki tubuh yang relatif lebih kecil
dibandingkan Rusa jenis lainnya. Rusa Bawean (Axis kuhlii) mempunyai tinggi
tubuh antara 60-70 cm dan panjang tubuh antara 105-115 cm. Rusa endemik Pulau
Bawean ini mempunyai bobot antara 15-25 kg untuk rusa betina dan 19-30 kg untuk
rusa jantan.
Selain tubuhnya yang mungil, ciri khas lainnya
adalah memiliki ekor sepanjang 20 cm yang berwarna coklat dan keputihan pada
lipatan ekor bagian dalam. Tubuhnya yang mungil ini menjadikan Rusa Bawean
lincah dan menjadi pelari yang ulung.
Warna bulunya sama dengan kebanyakan rusa, cokelat
kemerahan kecuali pada leher dan mata yang berwarna putih terang. Bulu pada
Rusa Bawean anak-anak memiliki totol-totol tetapi seiring bertambahnya umur,
noktah ini akan hilang dengan sendirinya.
Sebagaimana rusa lainnya, Rusa Bawean jantan
memiliki tanduk (ranggah) yang mulai tumbuh ketika berusia delapan bulan.
Tanduk (ranggah) tumbuh bercabang tiga hingga rusa berusia 30 bulan. Ranggah
rusa ini tidak langsung menjadi tanduk tetap tetapi mengalami proses patah
tanggal untuk digantikan ranggah yang baru. Baru ketika rusa berusia 7 tahun,
ranggah (tanduk rusa) ini menjadi tanduk tetap dan tidak patah tanggal kembali.
13 Merak Hijau
Klasifikasi
ilmiah
·
Kerajaan : Animalia
·
Filum :
Chordata
·
Kelas :
Aves
·
Ordo :
Galliformes
·
Famili :
Phasianidae
·
Genus :
Pavo
·
Spesies :
P. muticus
Merak Hijau ( Green Peafowl ) yang dalam bahasa
ilmiah disebut Pavu muticus adalah salah satu dari tiga spesies merak yang
terdapat di dunia. Satwa yang terdapat di Cina, Vietnam dan Indonesia ini
mempunyai bulu-bulu yang indah. Apalagi Merak Hijau jantan yang memiliki ekor
panjang yang mampu mengembang bagai kipas. Namun justru karena keindahan itu
yang membawa petaka bagi kehidupan satwa langka dan dilindungi ini.
Merak Hijau (Pavu muticus) mempunyai bulu yang
indah yang berwarna hijau keemasan. Burung jantan dewasa berukuran sangat
besar, dengan penutup ekor yang sangat panjang. Di atas kepalanya terdapat
jambul tegak. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan.
Bulu-bulunya kurang mengilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu
penutup ekor. Mukanya memiliki aksen warna hitam di sekitar mata dan warna
kuning cerah di sekitar kupingnya.
Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu
ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan
bintik berbentuk mata. Burung betina menetaskan tiga sampai enam telur setelah
mengeraminya pada tumpukan daun dan ranting di atas tanah selama satu bulan.
Anaknya akan terus berdekatan dengan induknya hingga musim kawin berikutnya,
walaupun sudah bisa terbang pada usia yang masih sangat muda.
Dalam urusan makan, burung Merak Hijau doyan aneka
biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis
hewan kecil seperti laba-laba, cacing dan kadal kecil.
Populasi Merak Hijau tersebar di hutan terbuka
dengan padang rumput di Republik Rakyat Cina, Vietnam, Myanmar dan Jawa,
Indonesia. Sebelumnya Merak Hijau ditemukan juga di India, Bangladesh dan
Malaysia, namun sekarang telah punah di sana. Meskipun berukuran besar, burung
indah, langka, dan dilindungi ini bisa terbang.
Di Indonesia, Merak Hijau hanya terdapat di Pulau
Jawa. Habitatnya mulai dari dataran rendah hingga tempat-tempat yang tinggi.
Salah satunya yang masih bisa ditemui berada di Taman Nasional Alas Purwo, Jawa
Timur. Selain itu diperkirakan juga masih terdapat di Taman Nasional Ujung
Kulon, dan Taman Nasional Meru Betiri.
Populasi Merak Hijau terus berkurang. Ini
diakibatkan oleh rusaknya habitat dan perburuan liar. Burung langka yang indah
ini diburu untuk diambil bulunya ataupun diperdagangkan sebagai bintang
peliharaan. Untuk menghindari kepunahan burung langka ini dilindungi
undang-undang. Di Pulau Jawa kini jumlah Merak Hijau (Pavu muticus)
diperkirakan tidak lebih dari 800 ekor.
International Council for Bird Preservation telah
menetapkan burung merak ini sebagai spesies yang hampir punah. CITES,
memasukkan Merak Hijau dalam kategori Appendix II. Sedangkan Red List
Authority-IUCN, pada data yang dirilis pada bulan Oktober 2009 telah menaikkan
statusMerak Hijau (Pavo muticus) dari vulnerable (VU atau ”rentan”) menjadi
endangered (EN atau “genting”).
14 Trenggiling
Klasifikasi
ilmiah
·
Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Mammalia
· Ordo : Pholidota
· Famili : Manidae
· Genus : Manis
· Spesies : M. javanica
Trenggiling (Manis javanica syn. Paramanis
javanica) adalah wakil dari ordo Pholidota yang masih ditemukan di Asia
Tenggara. Hewan ini memakan serangga dan terutama semut dan rayap. Trenggiling
hidup di hutan hujan tropis dataran rendah.
Bentuk tubuhnya memanjang, dengan lidah yang dapat
dijulurkan hingga sepertiga panjang tubuhnya untuk mencari semut di sarangnya.
Rambutnya termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun membentuk
perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika diganggu, trenggiling
akan menggulungkan badannya seperti bola. Ia dapat pula mengebatkan ekornya,
sehingga "sisik"nya dapat melukai kulit pengganggunya.
Trenggiling terancam keberadaannya akibat
habitatnya terganggu serta menjadi obyek perdagangan hewan liar. Dipasaran
gelap internasional harga daging trenggiling, mencapai 112 dollar AS per kg
(sekitar Rp. 1 juta). Harga jual di restoran bisa mencapai 210 Dollar AS
(sekitar Rp 1,9 juta) per kg dan harga sisiknya per keping mencapai 1 dollar AS
(sekitar Rp. 9.000). Sedangkan harga jual 1 kg daging teringgiling dari
pengumpul lokal (di Indonesia) mencapai Rp.250.000.
Harga jual daging trenggiling yang menggiurkan
inilah yang membuat orang-orang memburu teringgiling yang hidup di Indonesia
(juga di Malaysia dan Thailand) untuk di ekspor daging dan kulitnya (sisik)
secara ilegal ke para peminat di luar negeri, antara lain ke China, Singapore,
Thailand, Vitenam dan Laos demi kepentingan bahan kosmetik, obat kuat, santapan
di restoran dan kulitnya untuk bahan pembuatan shabu (narkoba).
15 Kakatua Maluku

Klasifikasi ilmiah
·
Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Aves
· Ordo : Psittaciformes
· Famili : Cacatuidae
· Genus : Cacatua
· Spesies : C. moluccensis
Kakatua Maluku atau dalam nama ilmiahnya Cacatua moluccensis adalah burung berukuran
sedang, dengan panjang sekitar 52cm, dari genus Cacatua. Burung ini
mempunyai bulu putih bercampur warna merah-jambu. Di kepalanya terdapat jambul
besar berwarna merah-jambu yang dapat ditegakkan. Bulu-bulu terbang dan ekornya
berwarna jingga kekuningan. Burung betina serupa, dan biasanya berukuran lebih
besar dari burung jantan.
Endemik Indonesia, daerah sebaran kakatua Maluku
adalah di Maluku Selatan. Spesies ini hanya terdapat di hutan primer dan
sekunder Pulau Seram, Ambon, Pulau Haruku dan Saparua. Sejumlah populasi
kakatua Maluku dilindungi di Taman Nasional Manusela, yang merupakan salah satu
tempat terakhir untuk menemukan burung ini di habitat liar. Pakan kakatua
Maluku terdiri dari biji-bijian, kacang dan aneka buah-buahan.
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan
penangkapan liar yang terus berlanjut untuk perdagangan, serta daerah burung
ini ditemukan sangat terbatas, kakatua Maluku dievaluasikan sebagai Rentan di
dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I dan II
sejak tahun 1989.
Klasifikasi
ilmiah
·
Kerajaan : Animalia
· Filum : Chordata
· Kelas : Reptilia
· Ordo : Testudines
· Famili : Trionychidae
· Genus : Amyda
· Spesies : A. cartilaginea
Bulus (Amyda cartilaginea) adalah sejenis labi-labi
(kura-kura berpunggung lunak) anggota suku Trionychidae. Disebut berpunggung
lunak karena sebagian perisainya terdiri dari tulang rawan dan tempurung punggungnya
(karapas) dilapisi oleh kulit tebal dan licin. Dalam bahasa Inggris, hewan ini
dikenal dengan nama Asiatic softshell turtle atau common softshell turtle;
dalam bahasa Madura disebut ketempah.
Kura-kura yang hidup di air, dengan diameter
punggung mencapai 100 cm, meskipun umumnya hanya hingga 60 cm saja. Kepala
membulat, dengan mata kecil dan lubang hidung yang terletak di ujung belalai
yang kecil dan pendek. Perisai relatif membundar, tertutupi oleh kulit tebal
yang lunak dan licin, dengan bintil-bintil dan lipatan (gigir) rendah memanjang
yang halus dan terputus-putus. Lehernya panjang, sehingga kepalanya dapat
menjangkau sekurangnya setengah dari perisainya. Tungkai depan dan belakang
dengan selaput penuh, cakar-cakarnya kuat dan berkuku runcing terutama pada
tungkai depan.
Warnanya bervariasi mulai dari hitam, abu-abu
hingga kecoklatan. Hewan-hewan yang muda memiliki bintik-bintik kekuningan,
terang ataupun buram. Kadang-kadang terdapat 6-10 bercak bulat agak gelap
bertepi putih, tersusun dalam deretan melengkung di punggungnya. Sisi bawah
tubuh halus licin, berwarna keputihan.
Di masyarakat-masyarakat tradisional di Indonesia
barat, bulus biasa diburu untuk dimakan dagingnya. Orang Tionghoa juga
menyukainya dan kerap dimasak sebagai pi oh. Perdagangan hewan ini untuk
keperluan konsumsi di pelbagai bagian dunia mencapai jumlah berton-ton perhari,
sehingga mengancam kelestarian populasinya di alam. Oleh sebab itu IUCN
menetapkannya ke dalam status Rentan (VU, Vulnerable).